Seputar kirim naskah ke media cetak

seperti apa kriteria naskah yang dapat dimuat di beberapa media cetak?(nama media cetaknya apa dan bagaimana kriterianya?)

Salah satu hal yang akan sering Anda lakukan sebagai penulis adalah mengirimkan naskah ke penerbit. Walau kelihatannya kegiatan ini sangat sepele, namun sebenarnya sangat signifikan bagi karier Anda sebagai penulis. Berikut ini adalah beberapa buah tips yang bisa menjadi panduan Anda dalam mengirimkan naskah ke penerbit.

1. Bacalah terlebih dahulu petunjuk pengiriman naskah. Biasanya petunjuk ini tercantum di dalam website penerbit. Bacalah denngan teliti. Beberapa penerbit memiliki persyaratan yang khusus.

2. Cari tahu jenis buku yang diterbitkan oleh penerbit yang Anda inginkan. Penerbitan akademis tentu akan menolak naskah fiksi. Hal ini dimaksudkan supaya Anda tidak membuang waktu mengirimkan naskah ke penerbit yang salah.

3. Bila Anda mengirimkan dalam bentuk hardcopy, sertakan amplop yang sudah ditempeli perangko secukupnya apabila Anda ingin naskah tersebut dikembalikan apabila ditolak.

4. Apabila Anda mengirimkan dalam bentuk softcopy pastikan bahwa naskah tersebut diketik dalam format yang umum digunakan. Mintalah persetujuan terlebih dahulu bila Anda ingin mengirimkan dalam format yang khusus. Apabila mengirimkan lewat email, isi subject email dengan jelas. Dan pastikan juga email atau file Anda bebas dari virus.

5. Sabarlah menunggu jawaban. Mungkin naskah Anda akan mendapatkan jawaban dalam hitungan minggu atau bulan. Editor sebuah penerbitan biasanya mendapatkan banyak sekali kiriman naskah, sehingga cukup menyita waktu mereviewnya satu per satu.

7. Kiriman naskah Anda yang terbaik. Jangan kirimkan naskah yang seadanya – masih banyak salah ketik, layout yang berantakan, dsb. Anda akan dinilai berdasarkan apa yang Anda kirimkan. Jadi kirimkan yang terbaik. Jika penerbit untuk mensyaratkan untuk mengirimkan salah satu contoh saja, kirimkan bab terbaik. Ini akan membuat Anda terlihat profesional.

8. Berikan impresi yang baik, sopan dan ramah apabila Anda ingin menanyakan tentang naskah Anda. Janganlah bersikap menjengkelkan dengan menelepon atau mengirim email setiap hari kepada editor. Biarkan editor mengerjakan tugasnya.

9. Sambil menunggu, janganlah berdiam diri. Setelah Anda mengirimkan naskah, buatlah naskah yang lain. Tetaplah produktif untuk menulis. Jika naskah Anda ditolak, anda akan memiliki naskah lain yang bisa dikirimkan. Carilah tema yang lain, berbeda dengan yang Anda kirimkan sebelumnya. Atau Anda bisa membaca kembali naskah Anda, sehingga Anda bisa mengirimkan kembali dengan melakukan revisi yang dperlukan

10. Terbukalah pada kritik. Jika penerbit meminta Anda merevisi naskah Anda, lakukanlah. Setiap penulis bisa salah tulis atau ketik. Anda juga perlu menyadari bahwa penerbit juga punya pertimbangan lain seperti segi “komersial” suatu naskah yang mungkin berbeda dengan idealisme Anda.

11. Bersiaplah menghadapi penolakan. Setiap akan penulis akan selalu mendapatkan penolakan, tidak terkecuali penulis yang sudah punya nama. Jangan menyerah. Kadang penerbit menolak suatu karya tanpa penjelasan sama sekali. Tidak perlu diambil hati. Tidak semua sebabnya adalah naskah Anda yang jelek, ada lebih lebih banyak alasan di luar hal itu, seperti ketidak cocokan naskah, atau mungkin editornya yang tidak bisa melihat kelebihan naskah Anda. Anda bisa mengirimkannya lagi – dengan revisi, atau mengirimkannya pada penerbit lain.

12. Ada beberapa dokumen yang perlu Anda kirimkan bersama naskah Anda, antara lain :

Sinopsis. Dengan sinopsis, penerbit dapat mendapatkan gambaran cocok tidaknya naskah untuk diterbitkan dengan lebih cepat. Sinopsis juga dapat membantu untuk medapatkan gambaran mengenai isi naskah tersebut.

Cover letter. Anda sebaiknya mengirimkan cover letter bersama dengan naskah tersebut. Cover letter sebaiknya juga menjelaskan apa kelebihan naskah Anda, siapa yang akan membaca tulisan Anda (target marketnya) dan menjawab pertanyaan mengapa penerbit harus menerbitkan naskah Anda. Apabila Anda baru pertama kali mengirimkan naskah ke penerbit, cover letter juga bisa berfungsi sebagai alat perkenalan.

Bio data. Satu dokumen lagi yang perlu Anda serahkan adalah bio data. Terutama jika Anda baru pertama kali mengirimkan naskah ke penerbit tertentu. Tidak ada salahnya juga bila Anda selalu mengirimkan bio data pada saat mengirimkan naskah, karena mungkin pengalaman Anda sudah bertambah. Di dalam bio data ini Anda bisa mencantumkan data pribadi, seperti nama, alamat, no kontak, email, dan sebagainya. Anda perlu juga mencantumkan latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan, keahlian Anda, terutama bila Anda menulis buku non fiksi, karena hal ini sangat berperan dalam menentukan lolos tidaknya naskah Anda. Jika Anda pernah menulis buku sebelumnya, sebutkan judul, penerbit, dan tahun beredarnya. Sebutkan juga jumlah eksemplar yang telah dicetak dan terjual, apakah buku Anda masuk kategori best seller. Hal ini akan menambah nilai jual Anda.

sumber :http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080810214619AAx8oRv

Cut, Amru dan Lantun Terputus (part 2)

Lama kutenangkan tangisnya, sampai akhirnya airmata itu tak lagi menetes. Etah telah reda atau memang tak ada lagi yang tersisa untuk diteteskan. perlahan bocah itu mulai terlihat bisa menenangkan diri, meski masih tergurat sedu sedan di sela nafasnya yang belum teratur. Ibu jariku tak tega membiarkan air matanya tetap membekas dikedua pipi itu. Dan empatiku tersentuh untuk menyingkap ‘perih’ yang ia dekap.

“Ngapo dek?” seldikku, mencoba menyelami keresahan dan kesedihan itu.

“Dak apo-apo kak”
Amru masih mendekap erat perih yang ia rasa, tak sepatahpun dibiarkannya aku tahu perih itu. Lalu perbincangan terputus sampai disitu, ia beranjak mengambil AL-Qur’an dan mulai mendendangkan ayat-ayat indah. Hampir setengah jam kalimah suci ia lantunkan, mengubah sedu sedan menjadi senyum dan ketenangannya. Pun menenggelamkan jiwa seperti jiwaku. Tenggelam kedalam hanyut dan berubah lagi menjadi sedih dan peyesalan.

Kini aku yang terunduk mendekap perih, meski perihku tak seperih Amru. Ar-Rahman yang tengah ia lantunkan sekarang, terus berulang menggarisi hati. Mengingatkan ingkarku pada syukur. Kelimpahan anugrah yang terpandang remeh, seperti kebahagiaan yang tak pernah terkecap oleh bocah-bocah kecil yang tiap harinya mendendangkan lantun demi hidup yang harus tetap mereka perjuangkan.

Lamunku melayang, mengingat masa kecil yang tak sekeras Amru. Tak mesti terpisah dengan kedua sosok yang merawat dan membesarkanku. Tak mesti besusah payah mencari nafkah, menjaga adik yang masih sebocah itu. Bisa sebebasnya mengenyam pendidikan, atau bahkan kehilangan waktu bermain yang semestinya menjadi hakku. Ah… betapa tegar kau jalani idup, Amru..!!!!

“Kak, kami balik dulu ye…!!! Suara cut membangunkan lamunku.
“Eh.. emm iyo, ati-ati be yo” jawabku sambil mengelus kepala Cut.

Mereka berlalu meninggalkan aku dan lamunanku yang kembali melayaang, menyesali betapa seringnya aku bertengakar dengan adik-adikku.

bersambung lagi, tulisan ini terinspirasi my ici, my ipan n my iwan (bintang-bintang yg saat ini begitu kurinduan masa kecil dulu)

Amru, Cut dan Lantun Terputus (part 1)

Beberapa receh dan lembar rupiah terkumpul di sisa kantong bungkus permen yang ia tadahkan di depan para penumpang. Suaranya telah terdengar serak meski masih merdu sampai ditelingaku, tiga buah lagu ia lantunkan, mengalun sepanjang jembatan ampera dan sungai musi. Tubuh mungil bocah 8tahun itu sesekali terhuyung kala harus menyelinap di padat penumpang bis. Tangan kanannya masih memegang adiknya–cut yang masih kecil. Berusaha sekuat tenaga agar adiknya tak terlepas dari genggaman.

Kini bungkus permen yang ia sodorkan sampai di hadapanku, terdengar bunyi gemerincing dari bungkus itu, mengikuti ayunan tangan Amru. Tak sekilaspun ia menatap mataku, cut telah banyak menyita konsentrasinya, bahkan untuk memberi sunggingan senyum kecil kepada penumpang yang akan ia pintai.

“Seikhlasnya kak” suaranya serak menatapku
tak kuasa kualihkan pandang pada bocah itu, kumasukkan selembar rupiah di kantong permenya. Bis kemudian berhenti mencari penumpang lain, meski didalam sudah sesak dipenuhi penumpang dengan beraneka karakter. Amru cepat mengajak Cut turun, langkah mungil mereka tertatih keluar dari pintu belakang bis.

Bis telah membawaku menjauh dari dua bocah lucu tersebut, masih bisa kutatap dari jendela kaca belakang, Amru mengusap jilbab kecil adiknya, mengacak-ngacak kain putih tersebut. Hampir setiap miinggu kudengar lagu-lagu mereka. Kadang lagu lagu kesedihan, kadang lantunan keagungan tuhan, kadang kagu khas daerah mereka–Aceh dan kesedihan tsunami beberapa tahun lalu. Dan setiap kali kudengar lantunan mereka, maka sepanjang sisa perjalanan Palembang-Inderalaya bayang mereka menemani lamunku.

***

Disalah satu siang saat aku tengah menunggu bis yang akan membawaku kembali ke Inderalaya. mataku dan mata amru bertemu tatap, sementara cut sibuk memutar dan membolak balik kantong bungkus permen, berharap masih ada rupiah yang terlupa diambil kakaknya. Amru tak asing lagi dengan wajahku, entah berapa puluh atau ratus kali aku mendengarkan ia melantun dengan gitar kecilnya. Kemudian ia tersenyum.

“Assalamu’alaikum kak” lembut tuturnya menyapaku dengan salam sambil menjabat tanganku

“Waalaikumussalam” terperanjat saat dia menunduk dan mencium tanganku

“La dzuhur kak, belum nak sholat?” 4tahun di palembang dengan 1 tahun mengamen membuatbya fasih berbahasa palembang.

ajakannya mengiris hati, sudah beberapa bulan rutinitas melenakan hati. Hanya untuk sujud dihadapanNYA 5 kali sehari saja aku sering lalai.

“Yuk kak” cut berteriak memanggilku
“Naaaaaik” cut kegirangan saat kakaknya tak keberatan ia naikki. Amru menggendong adiknya.

Aku sedikit tergesa mengikuti amru yang sesekali jahil menakut-nakuti adiknya dengan tiba-tiba berlari dan berhenti mendadak. Mereka tertawa, menikmati hidup yang terkadang kejam memisahkan hati mereka dengan hati ayah-ibunya.

pelataran masjid menyaksikan kedua bocah tersebut. mereka berhasil menyentuh keping hatiku yang belum berpendar.

“kak, imam ye?” amru membentangkan sajadah sedikit lebih mundur dari sajadahku.
sementara cut masih ribet mengenakan mukenanya yang kebesaran, :)
aku menganggukkan kepala, mengisyaratkan kesediaan. meski masih ada rasa kebelum pantasan seorang ‘aku’ menjadi seorang imam.

dalam takbir, dalam ruku’, dalam sujud, dan dalam salamku kucoba benar-benar menghambakan diri, berusaha agar ashar kali ini bermakna bukan rutinitas biasa.
aku tak tau apa yang ada dibenak amru dan adiknya, hanya bisik kecil yang didengar hembus angin keluar dari bibir kedua bocah tu, mengikuti takbir dan al fateha dari sang imam.

Mereka terlihat khusyuk melambungkan pinta pada penguasa kesempurnaan seusai sholat. bola mata amru terlihat teduh, lalu berkaca mengisyaratkan sedih, pengharapan, penyesalan, dan permohonan ampun dari do’a yang ia lafaskan.

Semilir dihembuskan angin panas kota, semakin mengiris hati si peminta yang menengadah. Rambut ikal Amru tak sedikitpun bergeming diterpa semilir tadi. meski kemudian kepalanya semakin menunduk menggapai kedua telapak tangannya sendiri, lama…. ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang tadi ditengadahkan. Lalu… perlahan isaknya terdengar, meski samar, meski pelan dan begitu menyayat empati. kudekap pundaknya, membelai rambut ikalnya, merasakan dan menenangkan,,
tangispun pecah menyapa tiap sudut yang dilalui semilir tadi…..

wait for part 2

hanya saja

bukan seribu melati ku alurkan
bukan jingga memahami hati saat hendak menjelang

hanya sepasang nada yang terkutuk baling-baling
bahkan bukan warna yang sengaja ditumpahkan kerling

hanya saja….
masih terkepal harapan lemah
itu saja….
binar yang tersisa

bukan suci saat surga membelaiku
bahkan hitam biru dan abu2 menari belenggu

hanya saja….
masih terdengar teriakan sunyi
itu saja….
suara yang tertepi

memeluk hati
memeluk jiwa
memberiku berita yang terkurung,
hampa…

mestinya kau tak tersenyum seindah itu..

jemuran menetes

jemuran menetes

Langit sore begitu indah membius mata, menghadirkan lukisan awan berbalut sinar mentari yang tak lama lagi akan meredup. Beberapa burung kecil menari mengitari keramaian jalan. Meski suara mereka tertutup oleh arus kendaraan yang melintas berselang seling. Aku tak bisa berkedip menatap langit, walau keangkuhan kota meleburkan keindahan itu sedikit demi sedikit.

Jingga, disana sudah hampir hilang digantikan kelabu dan hitam malam. Suara adzan mulai terdengar mengalun-bersahut dari corong-corong masjid. “Ah begitu singkatnya kunikmati keindahan itu”.—Hatiku berbisik pelan.
“Pulang Dzan?” Rian menepuk pundakku
“Iya sudah maghrib” jawabku “cabut ya”
“Yo’i, thanks udah nemenin dari tadi siang, bro”
kutinggalkan studio kawanku. Bergegas pulang berharap waktu maghrib belum habis sesampai dirumah, karena ragu akan kesucian pakaianku yang akan kubawa bertemu DIA jika memaksakan sholat di masjid sana. Lagipula jeans yang kukenakan juga bolong-bolong. Ah mudah-mudahan Vespa butut ini tidak bawel di tengah jalan.
Do’aku dikabulkan, Tuhan masih sayang padaku, IA membiarkan kendaraan yang kunaiki sehat walafiat. Menjadikan perjalanan pulangku mulus tanpa halangan. BRUMM…….!!!!. sampai juga dirumah tercinta.

***

Aku sayang padamu hujan, karena gerimis dan rintikmu selalu menyentuh kegersangan hatiku yang paling dalam. Seperti siang ini kulihat kalian dari balik jendela kaca, turun menetes dari langit luas.
Aku kagum pada kejahilanmu yang bisa memaksaku berteduh. Dan kali ini kalian meneduhkanku di dalam sebuah toko boneka, tak bisa beranjak sama sekali. Kalian memaksaku menikmati keindahanmu. Bahkan mengejutkanku dengan pelangi yang kau buat saat rintikmu telah mereda.
“Mas tasnya kebuka” Seseorang berujar sambil menunjuk tas yang kubawa
“Eh iya, thanks mba’.” Aku tersenyum, tas itu kukancingkan.
“Panggil Ri aja,”
“Thanks Ri, saya Adzan”
“Sama-sama mas Adzan”
“Ga asyik ah panggil mas, Adzan aja ya”
“Ya, duluan ya” Perbincangan sampai disitu, dia pergi.

Butir-butir rintik menyentuh jilbab pinknya, kantong pelastik belanjaan yang ia bawa ikut berayun mengikuti lari kecil itu. Meninggalkan aku yang masih betah menatap pelangi dari balik toko. Seketika ia berbalik, menatapku dan tersenyum. Sebuah senyum yang teramaaaat manis, membuat keindahan gerimis dan pelangi jadi tak berarti. Sebuah senyum yang labih dalam menyentuh kegersangan hati. Aku termangu, tak membalas senyumanya tak melambaikan tangan bahkan tak berlari mengejarnya. Aku benar-benar termangu oleh keindahan senyum itu. Sampai ia menghilang kala angkot membawanya pergi akupun masih termangu.

Lamun telah membawaku terbang menyentuh pelangi di atas sana. Membuatku terhanyut bahkan terlelap di tumpukan awan. Dan kemudian menjatuhkanku kembali kealam sadar. Kealam realitas dimana seorang bidadari dengan senyum semanis itu adalah milik seorang pangeran dengan kelebihan tak terbatas. Bukan lelaki biasa sepertimu “Ibrahim Adzan Satria”.

Mulai saat itu, hujan dan pelangi akan selalu mengingatkanku pada senyumnya. Semakin lama kutatap keindahan hujan dan pelangi semakin lama pula senyum itu membayang. Terkadang menyejukkan terkadang begitu menyiksa. Ah biarlah langit yang menuntunku menemukan senyum itu. Bukankah Sang Penguasa akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

***

Jam dinding kamar terdengar kencang sekali berdetak, mengalunkan detak tempo konstant dan monoton. Tak bisa kulanjutkan membalik halaman “maryamah karvof” ditanganku. Oah …….!!! Aku ngantuk. Bahkan tempo monoton tadi mulai terdengar menjadi alunan ‘Mozart’ yang siap meninabobokan. Tubuh ini terbaring, memeluk bantal dan menaikkan selimut. Serta tak lupa berkreasi membuat ‘peta abstrak’ diatas bantal (hehe). Semoga malam ini mimpi mempertemukan lelaki ini pada senyum itu….

“Tit tit tiiiiiiiit….tit!”
“Ah siapa sih malam-malam begini nelfon?” aku menggerutu
“Halo yan, ada apa?”
“Gawat dzan, ke studio sekarang buruan!!!” terdengar sekali suara Ryan sangat ketakutan
“ada ap…” belum sempat aku bertanya apa yang terjadi “tut tut tuuuuuut” suara Ryan sudah tak ada, panggilanya berakhir. Aku cemas, takut dan penasaran. Ibu bertanya-tanya dan sempat melarangku tuk pergi malam-malam begini. Tapi setelah kujelaskan bahwa mungkin saja kawanku tersebut dalam bahaya, baru ia mengizinkan. Vespa kesayangnku kubawa menerobos malam, menuju studio Ryan. Dan kurang dari 25 menit aku sudah sampai disana.
Wajahnya pucat pasi, beberapa tetes darah tercecer di atas karpet bulu. Menetes dari tangan dan pelipisnya. Pun keringat merembes dari T-shirt yang ia kenakan. Tatapanya kosong menatap “electric guitar” yang terpajang di pojok sebelah kanan. Aku mengahampiri, kemudian duduk disampingya.
“Apa yang terjadi bro?” tanyaku
“Ben..” Hanya itu yang kudengar dari mulut sahabatku itu
“Orang itu cari gara-gara lagi?” lanjutku penuh selidik
“Ya, kali ini dia menghina ibu, dia bilang ibuku….” Ryan tak dapat melanjutkannya.
“Trus knapa tangan ma pelipismu?” aku menunjuk pelipisnya
“Kena keroyok”
“seperti biasa, Besok kita kumpulin kawan trus kita uber kingkong itu?” tanyaku
“Ga usah, dia sekarang mungkin di rumah sakit, kutabrak pake motor”
Hening sejenak, aku berfkir apa yang harus kulakukan saat ini.
“Oke,sekarang kita kerumahku. Gak aman disini lagian luka itu harus di obati”
Ryan melangkah limbung keluar dari stodionya, kami mengendarai motor masing-masing, ia masih sanggup membawa motornya meski kondisi tubuhnya seperti itu., tak lagi kutoleh studio itu yang telah tergembok rapat. Kami langsung kerumahku.

Ibu hampir berteriak menatapku memapah Ryan dengan tetes darah di lengan dan pelipisnya, meski tetes-tetesnya tidak sederas tadi bahkan ada yang talah mengering. Kubaringkan sahabatku tu di sofa, ibu ke belakang mengambil air hangat, perban dan obat luka. Dngan sedikit memaksa kusuruh wanita yang telah melahirkanku tersebut untuk tidur dan memastikan baha Ryan akan baik-baik saja.

“Biar aku bu” kuambil baskom dari tangan ibu
“Ibu tidur saja, ga ada yang perlu dikhawatirkan Ryan akan baik-baik saja kok”
Wanita paruh baya itu akhirnya mau pergi kekamar stelah aku tersenyum dan menatap lekat mata teduhnya. Walau masih ada sisa-sisa cemas di wajahnya.

Kubersihkan luka-luka Ryan dengan air hangat, sesekali ia memicingkan matanya menahan sakit. Masih ada darah yang keluar merembes dari perban yag telah kubalutkan di lengannya. Syukurlah luka di pelipisnya tidak trlalu parah, hanya butuh plaster untuk menutupinya.
“Minum?” tanyaku kepada Ryan, usai merawat lukanya
“Bentar” aku kebelakang, setelah Ryan menganggukan kepalanya, tanda ia kehausan.
“Ni” aku meletakkan du gelas air putih di atas meja.
“Mo di kamar pa di sini?”
“Kamarmu saja dzan”
Aku memapahnya menuju kamarku setelah ia menghabiskan segelas minumnya.

Di kamar, banyak hal yang kudengar dari Ryan. Tadi sore setelah ia—kawanku tersebut pulang kerumahnya dari studio. Ia dihadang oleh Ben dan 3 orang kawannya tepat di lorong sempit 3 blok dari keramaian pasar. Ben ialah musuh bebuyutan kami. Tak tau persis cikal bakal permusuhan abadi ini. Tapi yang jelas ini masalah harga diri. Ryan salah satu sahabatku yang paling enggan untuk mencari-cari masalah. Aku faham sekali sifatnya. Tapi setelah kata-kata ejekan Ben mengikutsertakan ibunya, ia langsung naik pitam. Tanpa berfikir panjang ia tabrakkan motor yang masih ia nyalakan, ben terjungkal. Salah satu kawan ben membantunya berdiri dan dua orang lagi menghantam Ryan dengan bilah balok yang tergeletak di lorong itu. Lengan Ryan memar dan terluka karena menangkis balok tersebut. Motor yang ia kendarai oleng menabrak dinding lorong, beruntung tak terbalik dan motor masih menyala. Hanya saja kepalanya membentur stang motor. Tanpa fakir panjang ia pacu motor itu. Sampai akhirnya ia sampai di studionya dan menelfonku.

Siapa yang tidak marah kalau wanita yang telah melahirkan,membesarkan dan sangat kita sayangi di samakan dengan seorang mucikari? Hanya orang dengan kesabaran seperti nabi yang bisa tersenyum mendengar ibunya dilecehkan seperti itu. Aku merenungi cerita sahabatku.

Adzan terdengar sayup di ujung sana menyerukan untuk bertemu dengan sang pencipta. Subuh ini, mudah-mudahan bisa menenangkan hati sahabatku. Kami berjemaah meski kuyakin rasa sakit di lengan itu, sedikit menggangu kekhusyukan subuhnya kali ini.

***

Bak ‘james bourne’ dalam film ‘bourne identity, supremacy dan ultimatum’ kami bersama teman-teman yang lain. Membuat siasat dan taktik untuk mengantisipasi serangan balasan kelompok Ben. Membentuk tim pengintai, menyediakan alat-alat, menyusun diplomasi dan taktik lainnya. Beberapa titik yang dianggap rawan seperti studio Ryan dan bengkel Agung yang menjadi ‘base camp’ mendapat pengawalan yang cukup ketat. Jaringan komunikasi di atur ulang demi kemudahan saat diperlukan untuk saling berhubungan via telfon seluler. Track pelarian dan persembunyian juga tak luput dari perhatian.

Ben, sebagai ketua kelompok mereka masih terkapar dirumah sakit. Tulang rusuknya patah. Sehingga untuk beberapa saat masih membutuhkan perawatan intensive. Informasi tersebut datang dari pengintaian yang bertugas mengamati gerak-gerik kelompok Ben. Sejauh ini kelompok mereka belum menunjukkan akan melakukan serangan balasan. Situasi masih terkandali meski Agung yang bertindak sebagai ketua kelompok kami mengintruksikan untuk siaga.

bersambung

Free directory submission
Diet pills

Tantangan Berarti

Tantangan akan menggairahkan anda, memberi anda arah, dan membangkitkan
yang terbaik dalam diri anda. Tantangan akan mendorong anda untuk
mempelajari ketrampilan baru, meraup pengetahuan baru. Tantangan
memotivasi anda untuk memberi hasil terbaik dari diri anda.

Pernahkah anda perhatikan, saat anda memiliki sedemikian banyak
tugas yang harus dikerjakan, anda justru memiliki lebih banyak
yang selesai dikerjakan. Dan saat sedikit hal yang perlu dikerjakan,
ternyata lebih sedikit lagi yang selesai dikerjakan.
Usaha anda meningkat sesuai dengan pekerjaan yang harus dikerjakan.
Tantangan mendorong hasil.

Tantangan tidak muncul untuk menarik anda ke bawah. Tantangan ada
untuk mendorong anda ke atas, menghasilkan yang terbaik, mencapai
target. Memang tantangan itu sulit dan tidak menyenangkan. Tetapi
hal itulah yang memberikan arti dan nilai. Kesuksesan terbesar hadir
lewat kebiasaan berurusan dengan serangkaian tantangan. Bukan dengan
menghindari tantangan.

Tolong diri anda sendiri.
Temukan tantangan sejati, anda akan menemukan hidup sejati.

simber http://www.resensi.net/tantangan-berarti/2009/04/12/#more-522

Cinta Seorang Ibu

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya Suaminya sudah lama meninggal karena sakit Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati” Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya” Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah Tahukah anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita.. Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang t ida k bisa dinilai dengan apapun There is a story living in us that speaks of our place in the world It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan Gunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali.

sumber http://www.motivasi.web.id/?p=89#more-89

Show, Don’t Tell

Sebuah kisah yang sesungguhnya menarik, di mata pembaca bisa menjadi kurang menarik atau bahkan menjadi hambar, hanya karena teknik penulisan. Demikian juga cerita yang biasa-biasa saja bisa menjadi sangat menarik, juga karena teknik penulisan.

Perhatikan penggalan cerita berikut:

Pertama
Susan keluar dari kantor atasannya dengan sedih. Ia baru saja dipecat dari pekerjaannya.
Reaksi pembaca:
Oh, Susan baru saja dipecat.

Kedua
Mata Susan mulai memerah. Bibirnya sedikit tergetar menahan tangis yang ingin melompat keluar dari kerongkongannya. Susan menutup pintu kantor atasannya dengan pelan dan menghela napas, mencari kekuatan bagi dirinya. Ia memandang berkeliling. Ia melihat rekan-rekannya. Ia tidak akan bertemu dengan mereka lagi.
Reaksi pembaca:
Apa yang terjadi dengan Susan? Kenapa ia sedih? Apakah ia dipecat?

Kedua penggalan cerita di atas memiliki inti yang sama. Susan sedih karena dipecat. Tetapi dua cerita di atas memiliki dampak yang berbeda pada pembaca. Pada teknik penulisan pertama, pembaca mungkin sambil terkantuk-kantuk menyadari kalau Susan dipecat. Tetapi pada teknik penulisan yang kedua, emosi pembaca terpancing, pembaca tergerak untuk mengetahui lebih jauh, apa yang akan terjadi pada Susan.

Judul artikel ini menjadi jawaban mengapa inti cerita yang sama bisa menghasilkan dampak yang berbeda. Show, don’t tell. Penggalan cerita pertama memberitahukan (TELLING), seperti menonton berita malam di TV, sedangkan penggalan cerita berikutnya menunjukkan (SHOWING), menunjukkan kejadian yang terjadi, seperti apa perasaannya, dll.

Masih belum melihat perbedaannya? Perhatikan lagi dua penggalan cerita dengan inti cerita yang sama ini:

Pertama
Susan terburu-buru berangkat. Ia harus wawancara untuk pekerjaan barunya.

Kedua
Sepuluh menit lagi! Susan melirik jam bulat di dinding, sambil tangannya menyuapkan sesendok terakhir sereal kesukaannya. I masih sempat mencomot sari buah kotak yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, masuk ke mobil, dan meluncur ke jalan. Sambil sesekali menyeruput sari buah, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.


Show, don’t Tell !

oleh Didik Wijaya
Copyright Penerbit Escaeva

The Devil Is In The Details

Beberapa kelemahan yang sering ditunjukkan oleh para penulis pemula adalah sedikitnya detil yang digunakan untuk memperkuat cerita. Padahal walaupun sepele, detil berguna untuk menambah kekuatan karakter ataupun memperkaya setting.

Cerita Anda akan lebih nyata kalau dibantu dengan detil. Manusia memiliki berbagai macam indera. Gunakan indera tersebut untuk membuat cerita Anda nyata di mata pembaca, di telinga pembaca, di lidah pembaca, di hidung pembaca, atau di kulit pembaca.

Masih ingat dengan penggalan cerita di dalam artikel Show, Don’t Tell? Di bawah ini akan ditampilkan lagi penggalan cerita tersebut.

Sepuluh menit lagi! Susan melirik jam bulat di dinding, sambil tangannya menyuapkan sesendok terakhir sereal kesukaannya. Ia masih sempat mencomot sari buah kotak yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, masuk ke mobil, dan meluncur ke jalan. Sambil sesekali menyeruput sari buah, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Perhatikan di dalam cerita itu terdapat beberapa detil, misalnya ada jam dinding bulat, sereal, sari buah yang ada di kulkas, dll. Penggalan cerita ini menggambarkan Susan yang terburu-buru untuk wawancara, menyukai sereal, memiliki mobil. Hanya itu. Siapa sebenarnya Susan kita tidak tahu.

Sekarang perhatikan penggalan cerita yang sama di atas diberi sedikit modifikasi:

Sepuluh menit lagi! Susan melirik swatch yang melingkar manis di pergelangan tangannya, sambil tangannya menyuapkan potongan terakhir pizza peperoni. Ia masih sempat mencomot sekaleng coke yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, mengunci pintu, dan segera masuk ke dalam jazz biru matik hadiah papanya, dan melaju ke jalanan. Sambil sesekali menyeruput coke-nya, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Sekarang kita bisa melihat, setidaknya kita bisa menduga, Susan berasal dari keluarga menengah atas, usianya masih muda, mandiri dan tinggal sendirian.

Sekarang perhatikan penggalan cerita yang sama di atas dengan sedikit modifikasi yang berbeda:

Sepuluh menit lagi! Susan melirik jam bulat di dinding, sambil tangannya menyuapkan sesendok terakhir nasi goreng yang dibuat mamanya. Ia masih sempat mencomot botol yang sudah diisi air putih yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, tidak lupa mencium tangan mamanya, dan melompat ke jok belakang motor ojek yang sudah menunggu dari tadi, dan meluncur ke jalan. Sambil sesekali menyeruput air putih yang dibawanya tadi, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Sekarang Susan menjadi tinggal bersama orang tuanya, berasal dari keluarga menengah bawah, memiliki hubungan dengan orang tua yang baik, terlihat sebagai anak yang berbakti.

Di sini Anda tidak perlu menceritakan kalau Susan miskin, Susan kaya, Susan begini, atau Susan begitu, karena detil sudah menceritakan segalanya. Show them as details, don’t tell them literally! Jadi perhatikan detil, karena ia bisa menjadi teman atau musuh Anda. Sebagai teman, ia bisa membuat cerita Anda menyakinkan, menjadi lebih berkarakter, tetapi sebaliknya ia bisa membuat cerita Anda menjadi tidak masuk akal karena detil yang bertentangan, atau menjadi hambar miskin ekspresi juga karena detil yang sangat minim.

Apakah detil hanya berlaku bagi fiksi? Tidak. Naskah non fiksi pun harus memperhatikan detil. Apa yang Anda tulis memerlukan bukti, seperti kutipan, angka, statistik, dll. Bandingkan kalimat: “Kebanyakan anak sekarang menderita obesitas”, dengan “Setiap 55 dari 100 orang anak di bawah 12 tahun menderita obesitas”. Berbeda bukan? Ingat detil, detil, detil!

It’s true. The Devil is in the details.

Memilih Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view di dalam cerita fiksi pada prinsipnya adalah siapa yang menceritakan cerita tersebut. Sudut pandang itu seperti kita melihat sesuatu peristiwa melalui mata ’seseorang’. Kejadian yang sama di mata anak-anak dan orang dewasa tentu berbeda, sehingga sudut pandang sangat berpengaruh pada bagaimana cerita itu akan diceritakan. Bagaimana nuansa, gayanya, dan bahkan makna cerita itu bisa berbeda tergantung sudut pandang mana yang dipakai.

Misalkan saja kita memiliki sebuah cerita tentang pembunuhan serial. Kita memiliki beberapa tokoh, yaitu detektif yang bertugas menangani kasus itu, si pembunuh yang mengincar korbannya, dan seseorang yang mungkin menjadi korban berikutnya. Minimal, dari cerita itu kita memiliki ada 3 sudut pandang penceritaan yang berbeda. Apakah kita akan mengikuti gaya cerita cerdas si detektif, atau menyelami psikologi temperamental si pembunuh, atau bersama-sama korban harap-harap cemas menanti kejutan dari si pembunuh. Atau bisa juga Anda melihat dari sudut pandang seorang reporter yang melaporkan kejadian pembunuhan itu. Setidaknya dari cerita ini saja ada 4 variasi sudut pandang yang bisa Anda pakai.

Kalau mau lebih nyentrik lagi, bisa saja Anda menggunakan sudut pandang dari cermin yang ada di rumah korban, atau lebih ekstrim lagi sudut pandang lalat yang kebetulan menclok di tubuh korban. Banyak sekali kemungkinan sudut pandang yang dapat digunakan.

Ada dua sudut pandang yang biasa dipakai di dalam penulisan fiksi, antara lain:
1. First Person Point of View (Sudut Pandang Orang Pertama)
Di sini, narator berperan sebagai salah satu karakter. Karakter dipakai biasanya adalah karakter utama di cerita. Biasanya sudut pandang ini mudah dikenali, dengan ‘aku’ atau ’saya’ sebagai karakter utama.

2. Third Person Point of View (Sudut Pandang Orang Ketiga)

Sudut pandang orang ketiga dipakai bila kita menggunakan narator yang tidak ikut menjadi salah satu karakter fiksi tersebut. Namun, narator tersebut mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh karakter-karakter tersebut. Mungkin bisa Anda analogikan sebagai reporter di cerita pembunuhan di atas.

Sudut pandang orang ketiga bisa dibedakan lagi menjadi Omniscient atau Limited. Kalau di Omniscient Point of View, orang ketiga tersebut mengetahui semuanya tentang seluruh karakter cerita, baik perasaannya atau pikirannya. Sedangkan yang Limited, orang ketiga itu hanya mengetahui tentang beberapa karakter saja.

Jadi manakah yang harus dipilih? Tidak ada jawaban untuk pertanyaan ini. Semua sudut pandang bisa menghasilkan cerita yang hebat, tergantung Anda sebagai penulis untuk mengolahnya.

Jadi, Anda dapat bermain-main dengan gaya cerita, nuansa cerita hanya dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda. Cobalah mengeksplorasi cerita Anda dengan mencoba sudut pandang yang lain, mungkin akan menghasilkan cerita yang lebih baik lagi.

Selamat Menulis

oleh Didik Wijaya
copyright Penerbit Escaeva