
jemuran menetes
Langit sore begitu indah membius mata, menghadirkan lukisan awan berbalut sinar mentari yang tak lama lagi akan meredup. Beberapa burung kecil menari mengitari keramaian jalan. Meski suara mereka tertutup oleh arus kendaraan yang melintas berselang seling. Aku tak bisa berkedip menatap langit, walau keangkuhan kota meleburkan keindahan itu sedikit demi sedikit.
Jingga, disana sudah hampir hilang digantikan kelabu dan hitam malam. Suara adzan mulai terdengar mengalun-bersahut dari corong-corong masjid. “Ah begitu singkatnya kunikmati keindahan itu”.—Hatiku berbisik pelan.
“Pulang Dzan?” Rian menepuk pundakku
“Iya sudah maghrib” jawabku “cabut ya”
“Yo’i, thanks udah nemenin dari tadi siang, bro”
kutinggalkan studio kawanku. Bergegas pulang berharap waktu maghrib belum habis sesampai dirumah, karena ragu akan kesucian pakaianku yang akan kubawa bertemu DIA jika memaksakan sholat di masjid sana. Lagipula jeans yang kukenakan juga bolong-bolong. Ah mudah-mudahan Vespa butut ini tidak bawel di tengah jalan.
Do’aku dikabulkan, Tuhan masih sayang padaku, IA membiarkan kendaraan yang kunaiki sehat walafiat. Menjadikan perjalanan pulangku mulus tanpa halangan. BRUMM…….!!!!. sampai juga dirumah tercinta.
***
Aku sayang padamu hujan, karena gerimis dan rintikmu selalu menyentuh kegersangan hatiku yang paling dalam. Seperti siang ini kulihat kalian dari balik jendela kaca, turun menetes dari langit luas.
Aku kagum pada kejahilanmu yang bisa memaksaku berteduh. Dan kali ini kalian meneduhkanku di dalam sebuah toko boneka, tak bisa beranjak sama sekali. Kalian memaksaku menikmati keindahanmu. Bahkan mengejutkanku dengan pelangi yang kau buat saat rintikmu telah mereda.
“Mas tasnya kebuka” Seseorang berujar sambil menunjuk tas yang kubawa
“Eh iya, thanks mba’.” Aku tersenyum, tas itu kukancingkan.
“Panggil Ri aja,”
“Thanks Ri, saya Adzan”
“Sama-sama mas Adzan”
“Ga asyik ah panggil mas, Adzan aja ya”
“Ya, duluan ya” Perbincangan sampai disitu, dia pergi.
Butir-butir rintik menyentuh jilbab pinknya, kantong pelastik belanjaan yang ia bawa ikut berayun mengikuti lari kecil itu. Meninggalkan aku yang masih betah menatap pelangi dari balik toko. Seketika ia berbalik, menatapku dan tersenyum. Sebuah senyum yang teramaaaat manis, membuat keindahan gerimis dan pelangi jadi tak berarti. Sebuah senyum yang labih dalam menyentuh kegersangan hati. Aku termangu, tak membalas senyumanya tak melambaikan tangan bahkan tak berlari mengejarnya. Aku benar-benar termangu oleh keindahan senyum itu. Sampai ia menghilang kala angkot membawanya pergi akupun masih termangu.
Lamun telah membawaku terbang menyentuh pelangi di atas sana. Membuatku terhanyut bahkan terlelap di tumpukan awan. Dan kemudian menjatuhkanku kembali kealam sadar. Kealam realitas dimana seorang bidadari dengan senyum semanis itu adalah milik seorang pangeran dengan kelebihan tak terbatas. Bukan lelaki biasa sepertimu “Ibrahim Adzan Satria”.
Mulai saat itu, hujan dan pelangi akan selalu mengingatkanku pada senyumnya. Semakin lama kutatap keindahan hujan dan pelangi semakin lama pula senyum itu membayang. Terkadang menyejukkan terkadang begitu menyiksa. Ah biarlah langit yang menuntunku menemukan senyum itu. Bukankah Sang Penguasa akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.
***
Jam dinding kamar terdengar kencang sekali berdetak, mengalunkan detak tempo konstant dan monoton. Tak bisa kulanjutkan membalik halaman “maryamah karvof” ditanganku. Oah …….!!! Aku ngantuk. Bahkan tempo monoton tadi mulai terdengar menjadi alunan ‘Mozart’ yang siap meninabobokan. Tubuh ini terbaring, memeluk bantal dan menaikkan selimut. Serta tak lupa berkreasi membuat ‘peta abstrak’ diatas bantal (hehe). Semoga malam ini mimpi mempertemukan lelaki ini pada senyum itu….
“Tit tit tiiiiiiiit….tit!”
“Ah siapa sih malam-malam begini nelfon?” aku menggerutu
“Halo yan, ada apa?”
“Gawat dzan, ke studio sekarang buruan!!!” terdengar sekali suara Ryan sangat ketakutan
“ada ap…” belum sempat aku bertanya apa yang terjadi “tut tut tuuuuuut” suara Ryan sudah tak ada, panggilanya berakhir. Aku cemas, takut dan penasaran. Ibu bertanya-tanya dan sempat melarangku tuk pergi malam-malam begini. Tapi setelah kujelaskan bahwa mungkin saja kawanku tersebut dalam bahaya, baru ia mengizinkan. Vespa kesayangnku kubawa menerobos malam, menuju studio Ryan. Dan kurang dari 25 menit aku sudah sampai disana.
Wajahnya pucat pasi, beberapa tetes darah tercecer di atas karpet bulu. Menetes dari tangan dan pelipisnya. Pun keringat merembes dari T-shirt yang ia kenakan. Tatapanya kosong menatap “electric guitar” yang terpajang di pojok sebelah kanan. Aku mengahampiri, kemudian duduk disampingya.
“Apa yang terjadi bro?” tanyaku
“Ben..” Hanya itu yang kudengar dari mulut sahabatku itu
“Orang itu cari gara-gara lagi?” lanjutku penuh selidik
“Ya, kali ini dia menghina ibu, dia bilang ibuku….” Ryan tak dapat melanjutkannya.
“Trus knapa tangan ma pelipismu?” aku menunjuk pelipisnya
“Kena keroyok”
“seperti biasa, Besok kita kumpulin kawan trus kita uber kingkong itu?” tanyaku
“Ga usah, dia sekarang mungkin di rumah sakit, kutabrak pake motor”
Hening sejenak, aku berfkir apa yang harus kulakukan saat ini.
“Oke,sekarang kita kerumahku. Gak aman disini lagian luka itu harus di obati”
Ryan melangkah limbung keluar dari stodionya, kami mengendarai motor masing-masing, ia masih sanggup membawa motornya meski kondisi tubuhnya seperti itu., tak lagi kutoleh studio itu yang telah tergembok rapat. Kami langsung kerumahku.
Ibu hampir berteriak menatapku memapah Ryan dengan tetes darah di lengan dan pelipisnya, meski tetes-tetesnya tidak sederas tadi bahkan ada yang talah mengering. Kubaringkan sahabatku tu di sofa, ibu ke belakang mengambil air hangat, perban dan obat luka. Dngan sedikit memaksa kusuruh wanita yang telah melahirkanku tersebut untuk tidur dan memastikan baha Ryan akan baik-baik saja.
“Biar aku bu” kuambil baskom dari tangan ibu
“Ibu tidur saja, ga ada yang perlu dikhawatirkan Ryan akan baik-baik saja kok”
Wanita paruh baya itu akhirnya mau pergi kekamar stelah aku tersenyum dan menatap lekat mata teduhnya. Walau masih ada sisa-sisa cemas di wajahnya.
Kubersihkan luka-luka Ryan dengan air hangat, sesekali ia memicingkan matanya menahan sakit. Masih ada darah yang keluar merembes dari perban yag telah kubalutkan di lengannya. Syukurlah luka di pelipisnya tidak trlalu parah, hanya butuh plaster untuk menutupinya.
“Minum?” tanyaku kepada Ryan, usai merawat lukanya
“Bentar” aku kebelakang, setelah Ryan menganggukan kepalanya, tanda ia kehausan.
“Ni” aku meletakkan du gelas air putih di atas meja.
“Mo di kamar pa di sini?”
“Kamarmu saja dzan”
Aku memapahnya menuju kamarku setelah ia menghabiskan segelas minumnya.
Di kamar, banyak hal yang kudengar dari Ryan. Tadi sore setelah ia—kawanku tersebut pulang kerumahnya dari studio. Ia dihadang oleh Ben dan 3 orang kawannya tepat di lorong sempit 3 blok dari keramaian pasar. Ben ialah musuh bebuyutan kami. Tak tau persis cikal bakal permusuhan abadi ini. Tapi yang jelas ini masalah harga diri. Ryan salah satu sahabatku yang paling enggan untuk mencari-cari masalah. Aku faham sekali sifatnya. Tapi setelah kata-kata ejekan Ben mengikutsertakan ibunya, ia langsung naik pitam. Tanpa berfikir panjang ia tabrakkan motor yang masih ia nyalakan, ben terjungkal. Salah satu kawan ben membantunya berdiri dan dua orang lagi menghantam Ryan dengan bilah balok yang tergeletak di lorong itu. Lengan Ryan memar dan terluka karena menangkis balok tersebut. Motor yang ia kendarai oleng menabrak dinding lorong, beruntung tak terbalik dan motor masih menyala. Hanya saja kepalanya membentur stang motor. Tanpa fakir panjang ia pacu motor itu. Sampai akhirnya ia sampai di studionya dan menelfonku.
Siapa yang tidak marah kalau wanita yang telah melahirkan,membesarkan dan sangat kita sayangi di samakan dengan seorang mucikari? Hanya orang dengan kesabaran seperti nabi yang bisa tersenyum mendengar ibunya dilecehkan seperti itu. Aku merenungi cerita sahabatku.
Adzan terdengar sayup di ujung sana menyerukan untuk bertemu dengan sang pencipta. Subuh ini, mudah-mudahan bisa menenangkan hati sahabatku. Kami berjemaah meski kuyakin rasa sakit di lengan itu, sedikit menggangu kekhusyukan subuhnya kali ini.
***
Bak ‘james bourne’ dalam film ‘bourne identity, supremacy dan ultimatum’ kami bersama teman-teman yang lain. Membuat siasat dan taktik untuk mengantisipasi serangan balasan kelompok Ben. Membentuk tim pengintai, menyediakan alat-alat, menyusun diplomasi dan taktik lainnya. Beberapa titik yang dianggap rawan seperti studio Ryan dan bengkel Agung yang menjadi ‘base camp’ mendapat pengawalan yang cukup ketat. Jaringan komunikasi di atur ulang demi kemudahan saat diperlukan untuk saling berhubungan via telfon seluler. Track pelarian dan persembunyian juga tak luput dari perhatian.
Ben, sebagai ketua kelompok mereka masih terkapar dirumah sakit. Tulang rusuknya patah. Sehingga untuk beberapa saat masih membutuhkan perawatan intensive. Informasi tersebut datang dari pengintaian yang bertugas mengamati gerak-gerik kelompok Ben. Sejauh ini kelompok mereka belum menunjukkan akan melakukan serangan balasan. Situasi masih terkandali meski Agung yang bertindak sebagai ketua kelompok kami mengintruksikan untuk siaga.
bersambung
Free directory submission
Diet pills
Filed under: cerita, cerpen, menulislah | Ditandai: cerita, cerita pendek, cerpen, hujan, keindahan, keindahan hujan, langit, mestinya kau tak tersenyum, mestinya kau tak tersenyum seindah itu, pendek, senyum, sore, tak tersenyum | Tinggalkan sebuah Komentar »