Sebuah kisah yang sesungguhnya menarik, di mata pembaca bisa menjadi kurang menarik atau bahkan menjadi hambar, hanya karena teknik penulisan. Demikian juga cerita yang biasa-biasa saja bisa menjadi sangat menarik, juga karena teknik penulisan.
Perhatikan penggalan cerita berikut:
| Pertama Susan keluar dari kantor atasannya dengan sedih. Ia baru saja dipecat dari pekerjaannya. Reaksi pembaca: Oh, Susan baru saja dipecat. Kedua |
Kedua penggalan cerita di atas memiliki inti yang sama. Susan sedih karena dipecat. Tetapi dua cerita di atas memiliki dampak yang berbeda pada pembaca. Pada teknik penulisan pertama, pembaca mungkin sambil terkantuk-kantuk menyadari kalau Susan dipecat. Tetapi pada teknik penulisan yang kedua, emosi pembaca terpancing, pembaca tergerak untuk mengetahui lebih jauh, apa yang akan terjadi pada Susan.
Judul artikel ini menjadi jawaban mengapa inti cerita yang sama bisa menghasilkan dampak yang berbeda. Show, don’t tell. Penggalan cerita pertama memberitahukan (TELLING), seperti menonton berita malam di TV, sedangkan penggalan cerita berikutnya menunjukkan (SHOWING), menunjukkan kejadian yang terjadi, seperti apa perasaannya, dll.
Masih belum melihat perbedaannya? Perhatikan lagi dua penggalan cerita dengan inti cerita yang sama ini:
| Pertama Susan terburu-buru berangkat. Ia harus wawancara untuk pekerjaan barunya. Kedua |
Show, don’t Tell !
oleh Didik Wijaya
Copyright Penerbit Escaeva
Filed under: cerita, menulislah Ditandai: | bukan menceritakan, cerita, cerita pendek, keindahan cerpen, membuat cerpen lebih indah, menunjukkan, tips cerpen, tips menulis cerpen, trik cerpen