Lama kutenangkan tangisnya, sampai akhirnya airmata itu tak lagi menetes. Etah telah reda atau memang tak ada lagi yang tersisa untuk diteteskan. perlahan bocah itu mulai terlihat bisa menenangkan diri, meski masih tergurat sedu sedan di sela nafasnya yang belum teratur. Ibu jariku tak tega membiarkan air matanya tetap membekas dikedua pipi itu. Dan empatiku tersentuh untuk menyingkap ‘perih’ yang ia dekap.
“Ngapo dek?” seldikku, mencoba menyelami keresahan dan kesedihan itu.
“Dak apo-apo kak”
Amru masih mendekap erat perih yang ia rasa, tak sepatahpun dibiarkannya aku tahu perih itu. Lalu perbincangan terputus sampai disitu, ia beranjak mengambil AL-Qur’an dan mulai mendendangkan ayat-ayat indah. Hampir setengah jam kalimah suci ia lantunkan, mengubah sedu sedan menjadi senyum dan ketenangannya. Pun menenggelamkan jiwa seperti jiwaku. Tenggelam kedalam hanyut dan berubah lagi menjadi sedih dan peyesalan.
Kini aku yang terunduk mendekap perih, meski perihku tak seperih Amru. Ar-Rahman yang tengah ia lantunkan sekarang, terus berulang menggarisi hati. Mengingatkan ingkarku pada syukur. Kelimpahan anugrah yang terpandang remeh, seperti kebahagiaan yang tak pernah terkecap oleh bocah-bocah kecil yang tiap harinya mendendangkan lantun demi hidup yang harus tetap mereka perjuangkan.
Lamunku melayang, mengingat masa kecil yang tak sekeras Amru. Tak mesti terpisah dengan kedua sosok yang merawat dan membesarkanku. Tak mesti besusah payah mencari nafkah, menjaga adik yang masih sebocah itu. Bisa sebebasnya mengenyam pendidikan, atau bahkan kehilangan waktu bermain yang semestinya menjadi hakku. Ah… betapa tegar kau jalani idup, Amru..!!!!
“Kak, kami balik dulu ye…!!! Suara cut membangunkan lamunku.
“Eh.. emm iyo, ati-ati be yo” jawabku sambil mengelus kepala Cut.
Mereka berlalu meninggalkan aku dan lamunanku yang kembali melayaang, menyesali betapa seringnya aku bertengakar dengan adik-adikku.
bersambung lagi, tulisan ini terinspirasi my ici, my ipan n my iwan (bintang-bintang yg saat ini begitu kurinduan masa kecil dulu)
Filed under: cerita, cerpen Ditandai: | adik, amru, cerita, cerita pendek, cerpen, cut, cut dan lantun terputus, dan lantun terputus, fiksi, palembang