di bangku semen dan bawah pohon kertas. tulang rusukku menjelma menjadi kesederhanaan. lebih sederhana dari sekardus bunga matahari atau ekor kunang-kunang saat malam hening. mulutku sempat berujar, mungkin tak pernah didengarnya: “kita kan bersama dalam waktu yang lama putri, meski kujamin kalau kita akan melewati masa-masa berat, meski takkan selalu ada nafasku untuk sesak yang [...]
Filed under: tentang cinta dan haru | Ditandai: putri | Tinggalkan sebuah Komentar »