melukis sang putri (bagian 2)

di bangku semen dan bawah pohon kertas. tulang rusukku menjelma menjadi kesederhanaan. lebih sederhana dari sekardus bunga matahari atau ekor kunang-kunang saat malam hening.

mulutku sempat berujar, mungkin tak pernah didengarnya:
“kita kan bersama dalam waktu yang lama putri, meski kujamin kalau kita akan melewati masa-masa berat, meski takkan selalu ada nafasku untuk sesak yang kau dera, meski butuh keajaiban-keajaiban fi jalan yang kita hias, meski apapun…. ya meski apapun nanti”

ranting rapuh pohon kertas terjatuh, berubah menjadi salju hangat dipangkuanmu.

wahai………….
sesederhana itukah kau buat rinduku berayun di gumpalan detik?
dan hanya dengan satu tatapan, kau netralkan ulang?
dan dimana keberanianku menatap matamu sedalam kutatap mata bidadari lain?

cepat sembuh y….
ada getir, saat kau bercerita kalau kau tak tertidur…..
i love u so much, putri.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.