di bangku semen dan bawah pohon kertas. tulang rusukku menjelma menjadi kesederhanaan. lebih sederhana dari sekardus bunga matahari atau ekor kunang-kunang saat malam hening.
mulutku sempat berujar, mungkin tak pernah didengarnya:
“kita kan bersama dalam waktu yang lama putri, meski kujamin kalau kita akan melewati masa-masa berat, meski takkan selalu ada nafasku untuk sesak yang kau dera, meski butuh keajaiban-keajaiban fi jalan yang kita hias, meski apapun…. ya meski apapun nanti”
ranting rapuh pohon kertas terjatuh, berubah menjadi salju hangat dipangkuanmu.
wahai………….
sesederhana itukah kau buat rinduku berayun di gumpalan detik?
dan hanya dengan satu tatapan, kau netralkan ulang?
dan dimana keberanianku menatap matamu sedalam kutatap mata bidadari lain?
cepat sembuh y….
ada getir, saat kau bercerita kalau kau tak tertidur…..
i love u so much, putri.
Filed under: tentang cinta dan haru Ditandai: | putri