Lama kutenangkan tangisnya, sampai akhirnya airmata itu tak lagi menetes. Etah telah reda atau memang tak ada lagi yang tersisa untuk diteteskan. perlahan bocah itu mulai terlihat bisa menenangkan diri, meski masih tergurat sedu sedan di sela nafasnya yang belum teratur. Ibu jariku tak tega membiarkan air matanya tetap membekas dikedua pipi itu. Dan empatiku [...]
Filed under: cerita, cerpen | Ditandai: adik, amru, cerita, cerita pendek, cerpen, cut, cut dan lantun terputus, dan lantun terputus, fiksi, palembang | Tinggalkan sebuah Komentar »